Inspirational Stories
Dilema Sekolah Seharian #FullDaySchool
11 August 2016
jpeg vr new-10
Keluarga Indonesia
, minggu lalu dalam kita sudah membahas tentang perbedaan otak pria dan wanita. Hari ini kita akan membahas sebuah fenomena yang menjadi topik hangat tentang sekolah seharian penuh atau full day school. Tentunya tidak ada benar atau salah tentang wacana ini yang akan kita bahas pagi ini, karena masih sebatas wacana. Tetapi akan menjadi menarik kalau kita bahas tentang apa manfaat dan risiko dari sekolah seharian penuh bagi anak dan orangtua.

Darimana ide “full day school” sehingga menjadi topik yang hangat ?
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menggagas sekolah sepanjang hari (full day school) untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Tujuannya membuat anak memiliki kegiatan di sekolah dibandingkan berada sendirian di rumah ketika orang tua mereka masih bekerja.

"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Mendikbud usai menjadi pembicara dalam pengajian untuk keluarga besar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8) kemarin.

Menurut Muhadjir, dengan menambah waktu anak di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja. Dan, anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orang tua.
 
Menurut Muhadjir, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menyetujui program perpanjangan jam sekolah yang digagas kementeriannya.
 
"Bapak Wapres setuju. Namun beliau ada saran '
pilot project' (proyek percontohan) dulu untuk menjajaki pasar (uji coba)," kata Muhadjir Effendy seusai bertemu Wapres di Jakarta, Senin.

Muhadjir menjelaskan bahwa gagasan sekolah sepanjang hari sebenarnya sudah dijalankan oleh banyak sekolah, terutama sekolah swasta.

"Justru saya diilhami oleh sekolah-sekolah swasta soal 'full day school'," katanya.

Menurut dia, sistem
full day school banyak memberikan kesempatan kepada pihak sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik sesuai dengan program Nawacita pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Selain itu, program tersebut juga menghindari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di luar jam sekolah.

 
Dia menyebutkan jam pulang sekolah akan disamakan dengan jam pulang kerja sehingga anak didik tidak dilepas begitu saja setelah jam sekolah.

"Jadi, anak pulang jam lima sore, orang tuanya bisa jemput sehingga anak kita tetap ada yang bertanggung jawab setelah dilepas oleh pihak sekolah," tutur Muhadjir.

Kalau program tersebut diterapkan, dalam sepekan sekolah akan libur dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Sehingga menurut Muhadjir akan memberikan kesempatan bagi peserta didik bisa berkumpul lebih lama dengan keluarga.

Dalam konferensi pers di Jakarta Selasa siang, Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan akan membatalkan rencana perpanjangan jam sekolah atau yang ramai disebut sebagai kebijakan ‘’full day school’’ itu.
“Jika memang belum dapat dilaksanakan, saya akan menarik rencana itu dan mencari pendekatan lain," ujar Muhadjir.
Tetapi warga masyarakat tampaknya harus bersiap-siap menghadapi kontroversi baru. Muhadjir juga akan meninjau ulang kebijakan sekolah gratis yang dinilai kerap menghambat partisipasi masyarakat dalam mengelola lembaga pendidikan. Rencana peninjauan ulang itu disampaikannya seusai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (8/8)
 
 
Apakah sudah ada yang menerapkan sekolah hingga sore hari ?
Banyak sekolah swasta di kota besar misalnya Jakarta sudah menerapkan sekolah 5 hari, jam sekolah hingga jam 15.00.
 
Apa manfaatnya bagi siswa ?
Apabila jam sekolah dari pagi hingga jam 15.00, lalu memiliki hari libur dua hari dalam seminggu akan memberikan waktu yang panjang bersama keluarga di hari Sabtu dan Minggu nya. Tetapi tidak semua sekolah menerapkan jam sekolah seperti ini karena tergantung ketersediaan guru dan fasilitas sekolahnya.
 
Apa risikonya apabila jam sekolah disamakan dengan jam kerja orang dewasa yaitu hingga jam 17.00 sore ?
Seperti yang sudah kita bahas barusan bahwa tidak semua sekolah akan mampu menjalankan program seperti ini, karena keterbatasan tenaga pengajar, fasilitas sekolah. Artinya akan terjadi perbedaan perlakuan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Belum lagi bagi siswa yang tinggalnya jauh dari sekolah, yang naik kendaraan umum, yang naik perahu atau yang harus naik ke pegunungan. Maka tantangan dan aspek keselamatan menjadi lebih berisiko.

 
Apa saja yang bisa dilakukan kalau sekolah hingga sore hari (sampai jam 17.00) ?
Apabila jam sekolah misalnya tetap hingga jam 14.00 atau 15.00 lalu dilanjutkan hingga jam 17.00 yang diisi dengan banyak kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah misalnya belajar bersama, membuat pekerjaan rumah bersama, olah raga bersama, melakukan kegiatan ekstrakurikuler, belajar alat musik, remedial bersama. Tetap kembali semuanya apakah tersedia tenaga pengajar, fasilitas sekolahnya.
Sehingga ketika sampai di rumah anak-anak tinggal bermain bersama-sama orangtua dan keluarganya.
Menikmati sabtu dan minggu yang bebas dari kehiatan belajar.
 
Apa komentar siswa tentang rencana sekolah seharian ?
  • Apabila sekolah dapat menjawab kebutuhan hiburan dan aktifitas siswa, mungkin siswa akan merasa terjawab.
  • Apabila diisi dengan kegiatan belajar yang diperpanjang waktunya hingga jam 17.00, maka hal ini menjadi siksaan bagi siswa.
  • Melelahkan.
 Apa komentar orangtua tentang rencana sekolah seharian ?
  • Apabila sekolah dapat memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang akan dilakukan di perpanjangan waktu sekolah tersebut, mengisi waktu dengan efektif untuk siswa belajar dan bermain, lalu ketika mereka pulang ke rumah tidak ada lagi PR atau kegiatan belajar maka hal ini mungkin dapat menjawab kebutuhan orangtua.
  • Namun bagi orangtua yang tidak bekerja (berusaha sendiri, memiliki jam kerja yang bebas), maka jam belajar siswa yang diperpanjang akan dapat mengurangi waktu kebersamaan anak-anak dengan keluarga.
  • Kendala jarak rumah dan sekolah menentukan keberagaman respon atas program ini.
 
 
 
Kami percaya usulan atau wacana seperti ini akan terus memberikan pendapat pro dan kontra, semua perubahan yang menuju kebaikan tentunya perlu kita pertimbangkan untuk diterima.
Usulan ini perlu mempertimbangkan keberadaan sumber daya di sekolah, program yang mau ditambah, jenis-jenis program yang menjawab kebutuhan siswa, ketersediaan infrastruktur sekolah yang masih belum merata, jarak sekolah dan rumah yang beragam, masih banyak hal-hal yang perlu dikaji dan ditelaah hingga program ini dapat dijalankan.
 
Diperpanjang atau tidak diperpanjang tidak menjadi jaminan bahwa hubungan orangtua dan anak akan membaik (terbangun karakternya) atau memburuk (menjadi liar), yang penting adalah kita sadari mulai sekarang apakah kita sudah menjawab kebutuhan anak-anak kita ? Mari kita kembali fokus pada apa yang dapat dilakukan keluarga dalam mendidik anak, yaitu memberikan:

1.    Rasa aman.
2.    Rasa Berharga.
3.    Rasa berdaya guna.

Sehingga kita dapat membangun anak yang CERDAS PERILAKU.

 
Tips of the Day
 “Berikanlah rasa aman pada anak yang akan menjadi dasar rasa percaya dirinya di masa depan”
 (Family DISCovery)