Inspirational Stories
Mengapa Anak Saya di-bully?
14 February 2018
judul tika

Kenapa anak saya di bully? Lantas, kenapa harus anak saya? Tapi dia gak pernah ngomong apa-apa ke saya? Dia tidak terbuka pada saya. Dia bahkan tidak berkata apa-apa mengenai sekolahnya.

Tidak seorang pun orangtua yang ingin anaknya dilukai ataupun disakiti. Apalagi mendapati fakta bahwa anak mereka menjadi korban bullying. Bagi mereka sekolah seharusnya menjadi tempat dimana potensi anak-anak mereka dikembangkan. Bukan justru menjadi tempat yang paling mengerikan bagi mereka. Hanya saja fakta yang terjadi belakangan ini adalah banyaknya jumlah bullying yang justru terjadi di sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam kurun waktu 2011-2017 menerima 26 ribu kasus anak yang harus berhadapan dengan hukum karena terlibat kasus bullying di sekolah.

Namun tidak banyak dari orangtua yang mengetahui fakta ini. Bahkan tidak banyak  juga dari mereka yang tahu bahwa anak mereka sudah menjadi korban. Padahal satu hal yang paling penting untuk diketahui bahwa seorang anak yang menjadi korban bullying pada dasarnya akan lebih merasa anxious dan insecure  dibandingkan anak-anak lain. Oleh karena itu pengenalan orangtua terhadap anak-anak mereka menjadi kunci penting dalam permasalahan ini.

Dampak dari bullying ini sendiri pada anak bisa sangat berkepanjangan. Oleh karena itu orangtua bersama pihak sekolah harus bisa melakukan sesuatu kepada anak. Salah satu penyebab anak menjadi korban bully adalah karena dia kurang percaya diri terhadap dirinya. Untuk ini orangtua harus menjadi sosok yang memberikan motivasi serta mengembangkan potensi serta kelebihan yang anak miliki. Penting juga agar orangtua menjalin kontak dengan beberapa teman di kelas yang diyakini dapat menjadi teman yang baik bagi anaknya. Dengan demikian akan membantu anak untuk bisa mendapatkan support saat berada di sekolah. Bantu pula ia untuk bisa meningkatkan kemampuan sosialnya dengan memberikan ia kesempatan untuk aktif di lingkungan ataupun kelompok yang berisikan anak-anak seusianya. Hal ini akan membantu anak untuk bisa memahami cara berelasi dan berkomunikasi secara luwes dengan orang-orang disekitarnya.

Dalam benak anak yang menjadi korban bully, akan terngiang bahwa mereka tidak memiliki pilihan selain menerima semua perlakuan yang dilakukan pada mereka. Padahal pilihan tersebut nyata terbentang dihadapan mereka. Rasa cinta terhadap diri sendiri merupakan hal yang penting untuk mereka miliki untuk bisa melawan semua perlakuan tersebut. Untuk ini peran orangtua menjadi titik kunci serta sumber kekuatan bagi mereka untuk bisa menyatakan pada dunia bahwa mereka berhak mendapatkan tempat yang nyaman di sekolah.

Mungkin menjadi hal yang tidak mudah bagi orangtua untuk membuat anak menjadi terbuka kepada mereka terutama berkaitan dengan bullying. Namun menciptakan situasi rumah yang nyaman dan aman bagi mereka merupakan hal paling sederhana yang bisa dilakukan. Dari sana mereka akan belajar tentang bagaimana membuat diri mereka kuat saat menghadapi dunia luar.




Ditulis oleh: Sartika Sari Purba M.Psi – Psikolog, Konsultan & Trainer dari DISCovery Consultant.


sartika

Leave a reply